Tugas
dan kewajiban kita sebagai manusia terlalu banyak. Sedang waktu membatasi ruang
gerak dan usaha kita. Dilihat dari sisi waktu dan kepentingannya pekerjaan itu
bermacam-macam dan bertingkat. Dari situlah seorang mukmin harus memandang,
memilih dan memilah berbagai pekerjaannya.
- Dahulukan yang wajib dari yang sunnah atau mubah. Karena takwa itu terletak pada pekerjaan yang diwajibkan dan meninggalkan yang di haramkan. Bukan pada pekerjaan yang sunnah. Disanalah terletak tuntutan dan pertanggungjawaban!! Jika seseorang melalaikan yang wajib, maka cacatlah atau bahkan batallah ketakwaannya. Namun jika meninggalkan yang sunnah, maka tidaklah merubah ketakwaannya. Amalan sunnah (mandub) adalah penjaga yang wajib. Lantas apa pedulinya kita bayar satpam tanpa ada yang dijaga??!! Amalan sunnah adalah penambal amalan wajib dari ketidaksempurnaan, lantas apa gunanya menambal ban sedang yang ditambal tidak ada?? Bertepuk sebelah tangan!! Allah lebih cinta terhadap amalan wajib dari yang lainnya. Allah berfirman dalam hadits qudsi tentang amalan para wali-Nya: “ Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang telah aku wajibkan atasnya”. Baru setelah itu Allah lanjutkan tentang amalan sunnah dengan firman-Nya, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya”. Sebagai contoh soal adalah ketika iqamah telah dikumandangkan, maka janganlah memulai ataupun meneruskan shalat sunnat (jika masih sisa satu ruku’ atau lebih). Jangan mengutamakan shalat tahajjud jika malah tidak akan sanggup bangun pagi untuk shalat shubuh!
- Dahulukan yang fardhu ‘ain dari yang fardhu kifayah. Kadang dua atau tiga amalan fardu berbenturan dalam satu waktu. Dan tidak ada kemungkinan sama sekali untuk melakukannya bebarengan. Maka jika diantara sekian fardhu itu ada yang fardu ‘ain, tidak ada pilihan lain kecuali mengutamakan yang fardu ‘ain. Karena yang fardu kifayah akan gugur dengan sendirinya jika ada orang yang mengerjakannya. Sedang yang fardu ‘ain tak akan ada yang mengerjakannya kecuali anda sendiri. Contoh soalnya adalah, seorang menejer tidak boleh sibuk mengerjakan pekerjaan para stafnya sedang ia punya pekerjaan meeting atau planing program yang tidak dapat diwakilkan. Jika anda seorang dosen, maka menyiapkan materi pembelajaran harus didahulukan dari pada membantu cleaning servis. Maka pekerjaan yang tidak dapat diwakilkan harus dikerjakan sendiri dan diutamakan dari pada yang bisa diwakilkan. Dan yang sekiranya bisa diwakilkan mintalah orang lain untuk menggantikannya.
- Dahulukan wajib mudhayyaq dari yang muwassa’. Ada kewajiban yang sifatnya longgar, sehingga bisa diulur barang sejenak atau bahkan dilain waktu. Adapula kewajiban yang tidak dapat ditunda lagi. Maka inilah yang harus didahulukan. Misalnya saat laporan tahunan sebuah institusi harus segera diselesaikan dan tidak dapat ditunda karena lembaga tersebut memang sudah berjalan sampai ujung tahunnya. Maka inilah yang diprioritaskan dari kewajiban yang lainnya. Bukankah ketika waktu ashar telah hampir usai, sedang kita belum shalat ashar maka shalat ashar itulah kewajiban yang paling utama dibanding yang lainnya.
- Dahulukan yang paling utama dari yang utama. Setiap kita mengejar keutamaan, namun keutamaan itu bermacam-macam dan bertingkat. Sedang waktu , kesempatan dan kemampuan kita amat sangat terbatas. Memilih pekerjaan yang paling utama merupakan efisiensi waktu, dan kemampuan untuk mendapat kan keberuntungan yang lebih besar. Dari itu Rasulullah saw memprioritasakan dakwah tauhid dari pada yang lainnya; Seperti persaudaraan, memulyakan tamu, menyantuni anak yatim, fakir miskin dll. (namun bukan berarti Beliau mengabaikan sama sekali).
- Mulailah dari yang termudah. Dalam mengerjakan sesuatu hendaknya kita memulai dari perkara yang paling mudah, kemudian yang mudah, yang agak sulit baru kemudian yang sulit dan seterusnya. Ini merupakan fitroh manusia. Anak kecil, dia hanya belajar berjalan dan mengucapkan kata-kata yang sederhana saja, tak lebih dari itu. Lain halnya kalau kita memperhatikan apa yang dikerjakan oleh bapak dan ibu si bayi. Singkatnya, kalau di permulaan kita sudah dihadapkan pada permasalahan yang pelik, maka bukan keberhasilan yang akan kita tuai, namun rasa enggan dan pesimislah yang akan menghantui. Baginda Nabi saw. apabila disodorkan kepada beliau dua perkara, maka beliau pasti memilih yang termudah diantara keduanya asalkan bukan merupakan Hal ini menunjukkan betapa pentingnya uslub tadarruj dalam segala sesuatu, yaitu berangsur-angsur dan tidak tergesa-gesa dalam mengerjakannya.
- Selesaikan pekerjaan hari ini jangan ditunda lagi. Dengan menunda-nunda akan semakin menumpuklah pekerjaan yang ada dihadapan kita dan akan semakin berat untuk mengerjakannya. Kalau sudah demikian, kita akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan curahan fikiran dan tenaga yang tidak optimal sehingga hasilnyapun tidak bisa maksimal. Menunda-nunda pekerjaan adalah jalan setan yang diperuntukkan bagi pelamar kegagalan. Sedangkan orang yang sukses adalah orang yang disibukkan dengan perlombaan yang maha dasyat, yaitu perlombaan yang memerlukan kesungguhan, ketekunan serta kecepatan dan ketepatan dalam berpikir dan bertindak. Perlombaan yang menentukan antara bahagia dan sengsara, mulia dan hina, surga dan neraka. Bersegera bukan berarti tergesa-gesa, karena bersegera adalah kecepatan dalam merespon sesuatu dibarengi dengan perhitungan yang matang dan kesabaran yang sempurna untuk menunggu buah hasil yang diharapkan. Sedangkan tergesa-gesa adalah suatu tindakan tanpa perhitungan yang didasari oleh ketidakmampuan untuk bersabar dalam menunggu hasil. Orang yang tergesa-gesa untuk memperoleh sesuatu yang belum waktunya, maka ia tidak akan mendapatkannya sama sekali.
- Belajarlah dari kegagalan masa lalu. Seorang yang bijak tidak akan terperosok kedalam lubang yang sama. jadikanlah kegagalan di masa lalu sebagai batu loncatan untuk menuju ke masa depan yang lebih baik. Karena hampir semua manusia tidak lepas dari kegagalan ketika menempuh sesuatu di masa lalunya, namun jangan sampai kesalahan yang sama yang menjadi sebab terjadinya kegagalan di masa lalu terulang kembali.
- Jangan bernostalgia dengan kegagalan masa lalu. Larut dalam kesedihan atas hal-hal yang telah terjadi di masa lalu yang tidak mungkin untuk diputar ulang kembali, hanya akan menambah kepedihan dan kegundahan yang berkepanjangan, yang hanya akan mewariskan kemalasan. Dan pada gilirannya akan menghantarkan kepada kedunguan dan bahkan kegilaan.
- Jangan memikul beban yang belum sampai waktunya. Kekhawatiran luarbiasa terhadap segala apa yang akan terjadi di masa depan akan menjadi penghambat perubahan kearah yang lebih baik di masa depan, serta akan mengubur potensi dan rasa percaya diri. Sadarlah, bahwa yang kita punyai hanyalah hari ini. Kemarin telah pergi jauh dan tak akan kembali lagi. Sedang hari esok, siapa yang menjamin kita masih akan hidup?? Hari esok masih terlalu ghoib, lantas apa pedulinya kita harus merasa bersalah, susah, gelisah, dan terbebani dengan sesuatu yang belum ada wujudnya?
- Adakan perubahan kearah yang lebih baik, dan jangan canggung. Diantara indikasi hidupnya hati dan adanya kebaikan di dalamnya, senantiasa terdetik dalam diri untuk bisa mewujudkan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Namun semuanya tidak sekedar dipikir dan diangan-angan saja, melainkan harus segera melangkah. Yha, melangkah dari sesuatu yang baik menuju kepada yang lebih baik, dari yang utama menuju yang lebih utama serta dari yang sempurna menuju yang lebih. Rasulullah saw telah mengajari umatnya dua perkara yang bisa menghantarkan kepada kesuksesan yang teriringi oleh kemenangan; berupaya keras dalam mewujudkan hal-hal yang bermanfaat seiring memohon pertolongan kepada Allah swt, tidak tunduk mengalah kepada sikap lemah yang tidak lain ia adalah sikap malas yang membahayakan, dan pasrah kepada Allah swt atas hal-hal yang memang sudah menjadi ketentuan dari-Nya.
- Belajarlah untuk lebih terfokus pada suatu pekerjaan. Menkonsentrasikan diri untuk menangani suatu pekerjaan akan lebih mengoptimalkan curahan pikiran dan tenaga sehingga hasilnyapun bisa lebih maksimal. Umur yang terbatas. Kemampuan yang terbatas. Kalau digunakan pada banyak hal apalagi pada waktu yang sama maka hanya akan setengah-setengah. Ingatlah, bahwa Allah cinta pada pekerjaan yang ditekuni, dan sekali-kali Dia tidak menjadikan dalam diri seseorang dua hati sekaligus. Zaman ini yang dicari adalah zaman spesialisasi, maka yang dicari adalah yang benar-benar mumpuni dalam bidangnya. Dokter setengah-setengah tidak akan mendapatkan pasien.








asik ee
BalasHapus